Silaturahmi di Meja Buka Puasa, Cerita Hangat di Balik Pertumbuhan PT Gandasari Shipyard Bintan
TANJUNGPINANG (MR) - Suasana senja di Cozy Cafe and Resto, Jalan RH Fisabilillah Kilometer IX, Tanjungpinang, Selasa (10/3/2026), terasa berbeda dari biasanya. Menjelang waktu berbuka puasa, sejumlah jurnalis dari berbagai media di Kepulauan Riau mulai berdatangan.
Mereka tidak sekadar memenuhi undangan makan bersama, tetapi menjadi bagian dari sebuah pertemuan yang sarat makna: merawat hubungan antara perusahaan, media, dan masyarakat.
Di sudut ruangan, percakapan hangat terdengar bersahutan. Beberapa wartawan saling berbagi cerita liputan, sementara yang lain berbincang santai dengan perwakilan perusahaan dan masyarakat sekitar kawasan industri.
Acara buka puasa bersama yang digelar PT Gandasari Shipyard Bintan itu bukan hanya tentang hidangan yang tersaji di meja. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi yang mempertemukan berbagai pihak dalam suasana yang akrab.
Humas PT Gandasari Shipyard Bintan, Abang Ibrahim, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya perusahaan untuk mempererat hubungan dengan insan pers.
“Buka puasa ini bukan sekadar makan bersama. Kami ingin membangun kemitraan yang baik dengan media agar informasi tentang perusahaan bisa tersampaikan secara objektif kepada masyarakat,” ujarnya di sela acara.
Baginya, hubungan yang sehat antara perusahaan dan pers menjadi salah satu kunci terciptanya iklim usaha yang kondusif di daerah.
Di balik perbincangan santai sore itu, tersimpan cerita tentang geliat industri galangan kapal di Bintan. Dalam tujuh bulan terakhir, PT Gandasari Shipyard Bintan telah mempekerjakan 1.044 tenaga kerja, sebagian besar berasal dari masyarakat Kepulauan Riau.
Para pekerja tersebut terlibat dalam berbagai proses produksi kapal, bekerja bersama sejumlah perusahaan subkontraktor yang menjadi mitra dalam operasional galangan kapal.
Perusahaan yang didirikan oleh putra daerah, Andi Bawang, sejak awal menempatkan masyarakat lokal sebagai prioritas dalam perekrutan tenaga kerja.
“Karena perusahaan ini didirikan oleh anak daerah, kami ingin masyarakat Kepulauan Riau juga merasakan manfaatnya. Saat ini sudah lebih dari seribu tenaga kerja yang terserap,” kata Ibrahim.
Kehadiran perusahaan di kawasan tersebut tidak hanya menciptakan aktivitas industri, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.
Menariknya, acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh wartawan. Beberapa nelayan yang tinggal di sekitar area operasional perusahaan juga ikut hadir.
Kehadiran mereka membuat pertemuan itu terasa lebih inklusif. Diskusi yang terjadi tidak hanya menyentuh soal industri kapal atau dunia media, tetapi juga kehidupan masyarakat pesisir yang berdampingan dengan kawasan industri.
Di meja-meja makan, percakapan tentang laut, pekerjaan, hingga perkembangan daerah berlangsung santai namun penuh makna.
Perusahaan juga menyampaikan rencana untuk mengoptimalkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) guna mendukung berbagai kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitar kawasan operasional.
Bagi para jurnalis yang hadir, pertemuan seperti ini menjadi momen penting untuk menjaga komunikasi dengan berbagai pihak. Media tidak hanya menjadi penyampai berita, tetapi juga jembatan informasi antara perusahaan dan masyarakat.
Saat azan magrib akhirnya berkumandang, percakapan pun sejenak berhenti. Semua yang hadir bersiap membatalkan puasa.
Di tengah hidangan yang tersaji dan suasana kebersamaan yang hangat, acara itu seakan menjadi simbol bahwa pembangunan daerah bukan hanya tentang industri dan angka-angka, tetapi juga tentang hubungan manusia antara perusahaan, media, dan masyarakat yang saling terhubung dalam satu meja silaturahmi. (rudy)
