Sailim, S.Pd.I / Praktisi Pendidikan Setiap musim kemarau, kita disuguhkan pemutaran film yang sama diputar ulang. Langit menguning, matahari pucat, jarak pandang menyempit aktifitas terganggu. Di tengah pemandangan ini, anak-anak tetap semangat berangkat ke sekolah, menghirup udara tercemar yang tidak pernah mereka dambakan.
Sebagai orang yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan, kami guru-guru risau, orang tua wali siswa_pun meng_amini kerisauan yang sama. Kabut asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar persoalan lingkungan atau soal kesehatan. Ternya Ia juga menjadi persoalan pendidikan, dan lebih dalam lagi, persoalan hak setiap orang untuk sehat dan sukses.
Pendidikan adalah ikhtiar menumbuhkan manusia secara utuh (jasmani dan rohani), dan ikhtiar ini hanya berjalan di lingkungan yang aman dan sehat. Bagaimana menuntut anak fokus dan bersemangat bila matanya perih, kepalanya pening, dan tidurnya terganggu? Sebaik apa pun kurikulum dan metode guru, semuanya sia-sia bila paru-paru anak bekerja keras hanya untuk bernapas.
Anak-anak adalah kelompok paling rentan. Napas mereka lebih cepat, paru-parunya masih berkembang, dan mereka banyak bermain di luar ruangan. Berbagai penelitian mengaitkan paparan partikulat dengan menurunnya perhatian dan performa kognitif, walau besaran pengaruhnya berbeda antar studi. Guru merasakan murid lebih cepat lelah, mengantuk, dan sulit berkonsentrasi pada hari berkabut tebal.
Dampaknya tak berhenti di kesehatan. Sekolahpun diliburkan, dan bila berulang tanpa pengelolaan, hari belajar yang hilang menumpuk menjadi ketertinggalan, terutama pada literasi dan numerasi yang bersifat kumulatif. Pembelajaran daring tidak otomatis menjadi solusi, sebab tidak semua anak punya gawai serta jaringan yang stabil, dan ada pendamping pengganti guru di rumah. Asap pun berpotensi memperlebar ketimpangan anak yang kurang beruntung memungkinkan tertinggal dua anak tangga.
Lantas apa yang perlu dilakukan? Pertama, protokol yang jelas nan seragam. Terlalu sering sekolah diliburkan atau dibuka secara mendadak dengan ukuran berbeda antar daerah. Kami menyarankan kebijakan semestinya bertumpu pada data kualitas udara yang terukur, dengan tindakan berjenjang yang selaras dengan pedoman resmi otoritas lingkungan dan kesehatan. Kedua, sekolah perlu memberikan control ketat, meemberikan pengawasan dan pendampingan terhadap anak. Ketiga, pembelajaran harus lentur dan pleksibel, fokus pada kompetensi.
Namun semua ini hanya usaha penanggulangan di bagian hilir. Solusi sejati ada dibagian hulu. Menghentikan pembakaran hutan dan lahan lewat penegakan hukum yang konsisten, tata kelola gambut yang baik, dan kesadaran dunia usaha, serta rutin menge_idukasi masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan membakar. Kita tidak boleh terus menormalkan sesuatu yang semestinya bisa dicegah.
Kita lindungi anak-anak kita, kita persiapkan mereka menajdi genari yang kompetin dan mampu bersaing global. Mereka tidak ikut membakar hutan, tetapi paru-paru mereka dijajah asap. Mari berhenti menunggu cuaca membaik, edukasi sejak dini. Generasi yang kita didik hari ini akan mewarisi bumi yang kita jaga ataupun yang kita rusak hari ini.
Nama penulis : Sailim, S.Pd.I
Aktifitas rutinitas : Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Jaya Manggala
sekaligus Mahasiswa Program Magester Manejemen Pendidikan Islam STAIN SAR KEPRI